SINTANG, NN — Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala membuka Konferensi Kerja Cabang (Konkercab) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sintang Tahun 2026 yang digelar di Gedung PGRI Sintang, Kamis (26/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PGRI Sintang Yustinus J beserta jajaran pengurus, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Herkolanus Roni, serta para guru yang tergabung dalam PGRI Kabupaten Sintang.
Dalam sambutannya, Gregorius menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk para guru, memiliki peran penting sebagai penggerak pembangunan daerah. Menurutnya, kemajuan Kabupaten Sintang tidak hanya bergantung pada pemimpin, tetapi juga pada kinerja seluruh aparatur yang menjalankan tugasnya.
Ia mengibaratkan pemerintahan sebagai sebuah armada yang membutuhkan mesin agar dapat bergerak. Karena itu, pemerintah daerah akan terus berupaya mempertahankan gaji dan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN agar kinerja aparatur tetap berjalan dengan baik.
“Kalau ada nahkoda tetapi mesinnya macet, armada tidak akan bergerak. Begitu juga kalau mesinnya ada tetapi tidak ada bahan bakar, tetap tidak bisa berjalan. Karena itu, gaji dan TPP ASN akan kita pertahankan sebagai bagian dari upaya mendorong kemajuan Kabupaten Sintang,” ujarnya.
Gregorius juga memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan guru dan organisasi PGRI. Ia menilai guru merupakan bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Sintang.
Terkait masih adanya guru yang mengajukan permohonan pindah tugas, Bupati mengaku cukup banyak menerima permintaan tersebut. Namun, ia berharap para guru tetap bertahan dan menjalankan tanggung jawab di tempat tugas masing-masing.
“Saya sangat konsen dengan guru dan PGRI karena guru merupakan infrastruktur sumber daya manusia untuk membawa daerah ini maju. Saya banyak menerima permohonan pindah dari guru,” katanya.
Menurut Gregorius, keputusan seorang guru untuk pindah tidak hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi juga terhadap sekolah, siswa, serta proses pembelajaran yang ditinggalkan.
“Saya lebih kasihan kepada guru, murid dan mata pelajaran yang akan ditinggalkan. Karena itu, saya tidak mau ada guru yang terus pindah-pindah,” tegasnya.
Ia berharap para guru dapat menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan menjadikan tempat penugasan sebagai bagian dari pengabdian untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Sintang.












